LAPORAN PRAKTIKUM AGRIBISNIS PERIKANAN
USAHA IKAN SALAI LELE
BAPAK AHMADIN DI JLN. GADING MARPOYAN KOTA PEKANBARU
Dosen
: Ir.Mufti.M.Si
oleh:
Suliana (
1454201010/2014 )
Nenny
Rapita Manurung ( 1454201027/2014 )
Nelly
Anderiani ( 1454201024/2014
)
Nopenti
Seri Dewi .KS ( 1454201041/2014 )
Arnabas
zebua (1454201028/
2014 )
UNIVERSITAS LANCANG KUNING prodi agribisnis
fakultas pertanian
PEKANBARU
2016
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Subsektor perikanan dan peternakan merupakan
andalan utama sumber pangan dan gizi bagi masyarakat indonesia. Ikan, selain
merupakan sumber protein, juga diakui sebagai "functional food" yang
mempunyai arti penting bagi kesehatan karena mengandung asam lemak tidak jenuh
berantai panjang (terutama yang tergolong asam lemak omega-3), vitamin,serta
makro dan mikro mineral. Dibandingkan negara lain, sumbangan perikanan dalam
penyediaan protein di indonesia termasuk besar, yakni 55% . Namun demikian,
jumlah ikan yang tersedia belum memenuhi kondisi ideal kecukupan gizi sebesar
26,55 kg ikan/kapita/tahun. Dengan produksi ikan sebesar 4,80 juta ton, maka
jumlah ketersediaan ikan hanya 19,20 kg/kapita pada tahun 1998. Diperkirakan
angka konsumsi ikan secara aktual berada di bawah angka ketersediaan tersebut,
karena masih tingginya angka susut hasil ("loss") baik kuantitas,
kualitas, maupun nilai gizinya (Heruwati, 2002).
Ikan asap merupakan salah satu produk olahan
yang digemari konsumen baik di Indonesia maupun di mancanegara karena rasanya
yang khas dan aroma yang sedap spesifik. Proses pengasapan ikan di Indonesia
pada mulanya masih dilakukan secara tradisional menggunakan peralatan yang
sederhana serta kurang memperhatikan aspek sanitasi dan hygienis sehingga dapat
memberikan dampak bagi kesehatan dan lingkungan. Kelemahan-kelemahan yang
ditimbulkan oleh pengasapan tradisional antara lain kenampakan kurang menarik
(hangus sebagian), kontrol suhu sulit dilakukan dan mencemari udara (polusi)
(Swastawati , 2011).
Pengasapan dapat didefinisikan sebagai proses
penetrasi senyawa volatil pada ikan yang dihasilkan dari pembakaran kayu yang
dapat menghasilkan produk dengan rasa dan aroma spesifik umur simpan yang lama
karena aktivitas anti bakteri, menghambat aktivitas enzimatis pada ikan
sehingga dapat mempengaruhi kualitas ikan asap. Senyawa kimia dari asap kayu
umumnya berupa fenol (yang berperan sebagai antioksidan), asam organik,
alkohol, karbonil, hidrokarbon dan senyawa nitrogen seperti nitro oksida,
aldehid, keton, ester, eter, yang menempel pada permukaan dan selanjutnya
menembus ke dalam daging ikan ( Isamu,2012).
1.2.Tujuan
1. Mengetahui
profil usaha ikan salai lele
2. Mengetahui
input dan output usaha ikan salai lele
3. Mengetahui
proses penyalaian ikan salai lele
4. Mengetahui
SDM dan Pengolahan limbah dari proses produksi
BAB
II
KEADAAN
UMUM USAHA IKAN SALAI
Usaha budidaya ikan lele air tawar milik Bapak Ahmadin sudah
berkembang atau berproduksi cukup lama, usaha ini sekaligus merangkap proses
penyalaian pada ikan lele. Usaha ini berada di Jln. Gading Marpoyan Gg. Lundang
No. 130, Kelurahan Simpang Tiga, Kecamatan Bukit Raya Kota Pekanbaru. awal
bermula usaha ini yaitu pada tahun 2000 beliau telah meluluskan kuliaha nya
dari institut perguruan tinggi IPB di Bogor, sembari melaksanakan pendidikannya
beliau membuka usaha Ternak burung puyuh sampai proses perkuliajahannya
selesai, setelah itu usaha bapak ahmadin beralih pada objek yang lain, di tahun
2006 usahanya beralih ke pembenihan ikan, dimana belian merintis kembali dari
awal agar usahanya ini berjalan dengan baik sampai keluar daerah agar banyak
para anggota masyarakat yang mengetahui usaha tersebut dan dapat memberikan
dampak positif bagi usahanya.
Pada tahun 2010 beliau juga
melakukan usaha pembesaran ikan, akan tetapi disini beliau banyak mendapat
kendala yaitu tentang pemasarannya, selain itu fluktuasi harga juga terjadi
naik turun nya harga tersebut dan menjadi tidak stabil, oleh karena itu tidak
kehabisan akal dan pemikiran yang baik beliau menjadikan ikan- ikan tersebut
menjadi produk olahan yang menghasilkan profit bagi pengusaha dan dapat di jual
pada pangsa pasar yang umum.
Setelah usaha tersebut terus
berjalan, pada tauhun 2011 akhir pengolah
ikan salai nya (pengasapan) juga di pelajari lebih baik lagi oleh bapak ahmadin
agar hasil dari ikan salainya berstandar baik dan tidak mengecewakan konsumen,
waktu yang dibutuhkan oleh beliau untuk proses pembelajaran adalah 6 bulan,
setelah itu beliau sudah mendapatkan
izin yang syah untuk syarat-syarat pemasaran produknya di
sawalayan/pasar bebas yang disebut dengan (PIRT)
Tahun 2013, bapak ahmadin
melakukana Dipersivikasi usaha terhadap usaha budidaya ikana lelenya karena
beliau melihat prospek untuk kedepannya sangatlah bagus demi kelangsungan
usahanya dan banyak diminati oleh para masyarakat. Dari ternak puyuh ke
pembenihan ikan lele, berkembang ke proses pembesaran ikan lele, merangkap menjadikan ikan lele
sebagai ikan salai, dan beberapa lagi produk yang di hasilkan dari bahan baku
yaitu ikan lele seperti : a). keripik ikan lele; b). naget lele; c). abon lele
dan lainnya.
BAB
III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1
Profil usaha ikan salai
Berawal di tahun 2002, pria yang akrab disapa Madin ini
memulai usaha tambak lele di depan rumahnya. Awalnya baru satu kolam yang ia
punya. Uang hasil dari panen satu kolam itu kemudian ia kumpulkan dan dijadikan
modal untuk menambah kolam satu lagi. Begitulah seterusnya, perlahan ia terus
memperbanyak kolam lelenya, sehingga berjumlah 25 kolam.
Semua ini berawal dari nol. Awalnya hanya punya satu kolam.Kemudian
berkembang perlahan.Setelah bertahun-tahun membibitkan lele, Madin kemudian
mencoba belajar pengasapan ikan melalui temannya di pertengahan 2010.Setelah
merasa mantap, di awal 2011 Madin baru memberanikan diri mencoba membuat salai
lele sendiri.
Awalnya hanya kecil-kecilan.Dengan tungku kecil dan jumlahnya tidak
terlalu banyak.Tapi melihat respon masyarakat terhadap salai lele ini, kemudian
saya mencoba produksi bertambah banyak.Tungkunya pun semakin dibuat besar, dan
begitu pula tempat memanggang atau opennya.
Madin kemudian mencoba memperbesar marketnya dengan masuk ke pasar-pasar
tradisional, mini market, hingga super market.Ikan Salai Lele Sedap miliknya
pun semakin dikenal di pasaran.
3.2.
Hasil dan Pembahsan
3.2.1 Input Dan Output Usaha Ikan Salai bapak Ahmadin
Bahan baku pada pembuatan ikan salai
yaitu ikanlele ya ng berumur ± 3 bulan.
Ikan lele tersebut diperoleh padausaha sendiri dan disamping itu juga dengan
melakukan mitra usaha pada sesama Pengusaha ikan lele. Harga ikan lele basah
berkisar Rp. 10.000 – Rp. 18.000 / kg sedangkan harga ikan salainya Rp. 75.000
– Rp. 100.000 / kg.Setiap 1 kg ikanlelebasahmenghasilkan 250 gr ikan salai.
3.2.2
Proses Penyalaian
Proses penyalaian ikan ini mulai
dari pengambilan ikan basah sampai dengan pengemasan membutuhkan waktu selama 2
hari. Proses pembuatan ikan salai dimulai dari pengambilan ikan di kolam
ataupun dari rekan yang mempunyai usaha ikan lele, kemudian ditampung pada
sebuah ember untuk melakukan pencucian ikan dengan air bersih, setelah dicuci
bersih dilakukan pembuangan kotoran serta pembelahan ikan, lalu setelah itu
ikan dicuci kembali yang kemudian di susun pada oven untuk dilakukan
pengasapan, pada proses pengasapan membutuhkan waktu yang lama karena jika
menggunakan api yang terlalu besar maka ikan akan gosong sehingga kualitas ikan
salai akan menurun dan pengasapan ini merupakan proses yang lebih hati-hati
untuk mendapatkan hasil yang baik, proses berikutnya yaitu pendinginan ikan
sebelum di lakukan pengemasan karena jika dalam keadaan panas ikan salai di
kemasakan cepat rusak.
3.2.3 Hasil Dan Pemasaran
Untuk pendapatan selaman1 bulan
yaitu 4 kali proses produksi pada usaha ikan salai, sbb :
-
Harga
ikan lele basah = Rp. 10.000 – Rp. 18.000 / kg, sehingga harga rata-rata =Rp.
14.000
-
Hargai
kan lele salai= Rp. 75.000 – Rp. 100.000 / kg, dengan harga rata-rata = Rp.
87.500
-
Kayu
bakar = Rp. 250.000 / mobil pick up / bulan
-
1
kg ikan lele basah = 250 gr ikan salai
-
1
kg ikan salai = 4 kg ikan segar
-
1
kali proses produksi = 200 kg ikan lele basah = ±80 kg ikan salai
-
Gaji
karyawan = Rp. 800.000 / orang
-
1
bulan = 4 kali proses produksi ikan salai
-
Alat
yang di gunakan yaitu :pisau, ember, mejakerja, box penyimpanan ikan sebelum di
packing, pakingsiler, lemlistrik, timbangan listrik.
π = TR – TC
= Pendapatan kotor – (Ikan lele basah +Tenag akerja + kayu bakar +
penyusutan alat)
= {(80 kg ikansalai x 4 kali produksi) x Rp. 87.500 / kg} – {(200 kg x 4
kali produksi x Rp. 14.000) + (2 orang x Rp. 800.000) + (kayu bakarRp 250.000 /
mobil / bulan) + Rp. 3.800.000}
= (320 kg x Rp. 87.500 / kg) – (Rp. 11.200.000 + Rp. 1.600.000 + Rp.
250.000 + Rp. 3.800.000)
= Rp. 28.000.000 –Rp. 16.850.000
= Rp. 11.150.000 /
bulan
Pemasaran ikan salai yang sudah siap
untuk dijual dipasarkan pada beberapa tempat seperti di supermarket di Kota
Pekanbaru, online dan juga penjualan secara langsung di rumah.
Usaha ikan salai lele ini sudah
memiliki sertifikat cara pengolahan ikan yang baik yaitu sertifikat good manufacturing practices certificate dan
sertifikat dari PYRT tentang pengemasan ikan salai lele serta penggalakan dari
CBIB.
3.2.4. Sumber Daya Manusia
No.
|
Tenaga
Kerja
|
Jumlah
|
Pendidikssan
|
Penempatan
Kerja
|
1.
|
TK
dalam keluarga
-
suami
-
istri
|
2
orang
|
S1
SMA
|
Salingme
lengkapi
Salingme
lengkapi
|
2.
|
TK
luar keluarga
-
Ijur
-
Kamalia
|
2
orang
|
SMA
SMP
|
Saling
melengkapi
Saling
melengkapi
|
3.2.5. Pengolahan Limbah Hasil
Produksi
Limbah hasil produksi tidak dibuang
begitu saja, tetapi dilakukan pemanfaatan limbah untuk menghasilkan pupuk.
Pupuk yang dihasilkan dari pengolahan limbah dimanfaatkan untuk pembudidayaan
cacing pet, sehingga limbah dari proses produk ikan salai akan memberikan
dampak positif terhadap lingkungan dengan cara pemanfaatannya yang baik dan
benar.
BAB IV
KESIMPULAN
Ø Usaha
budidaya ikan lele air tawar milik Bapak
Ahmadin sudah berkembang atau berproduksi cukup lama, usaha ini sekaligus
merangkap proses penyalaian pada ikan lele. Usaha ini berada di Jln. Gading
Marpoyan Gg. Lundang No. 130, Kelurahan Simpang Tiga, Kecamatan Bukit Raya Kota
Pekanbaru. awal bermula usaha ini yaitu pada tahun 2000. Setelah usaha tersebut
terus berjalan, pada tauhun 2011 akhir
pengolah ikan salai nya (pengasapan) juga di pelajari lebih baik lagi
oleh bapak ahmadin agar hasil dari ikan salainya berstandar baik dan tidak
mengecewakan konsumen, waktu yang dibutuhkan oleh beliau untuk proses
pembelajaran adalah 6 bulan, setelah itu beliau sudah mendapatkan izin yang syah untuk syarat-syarat pemasaran
produknya di sawalayan/pasar bebas yang disebut dengan (PIRT). Tahun 2013,
bapak ahmadin melakukana Dipersivikasi usaha terhadap usaha budidaya ikana
lelenya dengan membuat berbagai olahan produk dari bahan dasar ikan lele,
seperti a). keripik ikan lele; b). naget lele; c). abon lele dan lainnya.
Ø Bahan baku pada pembuatan ikan salai
yaitu ikanlele ya ng berumur ± 3 bulan.
Ø Proses penyalaian ikan ini mulai
dari pengambilan ikan basah sampai dengan pengemasan membutuhkan waktu selama 2
hari. Proses pembuatan ikan salai dimulai dari pengambilan ikan di kolam
ataupun dari rekan yang mempunyai usaha ikan lele, kemudian ditampung pada
sebuah ember untuk melakukan pencucian ikan dengan air bersih, setelah dicuci
bersih dilakukan pembuangan kotoran serta pembelahan ikan, lalu setelah itu
ikan dicuci kembali yang kemudian di susun pada oven untuk dilakukan
pengasapan,
DAFTAR PUSTAKA
Heruwati,
endang sri. 2002. Pengolahan ikan secara tradisional: prospek dan peluang
pengembangan. Pusat riset pengolahan produk dan sosial ekonomi kelautan
dan perikanan, Jakarta.
Isamu
Kobajashi T., Hari Purnomo Dan Sudarminto S. Yuwono.
2012. Karakteristik Fisik, Kimia, Dan Organoleptik Ikan
Cakalang (Katsuwonus Pelamis) Asap Di
Kendari.Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 13 No. 2 [Agustus
2012] 105-110
Kusmajadi,
S., Lilis S., Dan Balqis B. 2011. Keempukan Dan Akseptabilitas Daging Ayam Pada
Berbagai Temperatur Dan Lama Pengasapan. Jurnal Ilmu Ternak. Volume 11 Nomor 1
DOKUMENTASI KEGIATAN