Selasa, 27 Desember 2016

laporan praktikum agrinisnis perikanan



LAPORAN PRAKTIKUM AGRIBISNIS PERIKANAN

USAHA IKAN SALAI  LELE BAPAK AHMADIN DI JLN. GADING MARPOYAN KOTA PEKANBARU


 


Dosen : Ir.Mufti.M.Si

oleh:
                Suliana                                   ( 1454201010/2014 )
                Nenny Rapita Manurung     ( 1454201027/2014 )
                Nelly Anderiani                     ( 1454201024/2014 )
                Nopenti Seri Dewi .KS          ( 1454201041/2014 )
                Arnabas zebua                       (1454201028/ 2014 )




UNIVERSITAS LANCANG KUNING prodi agribisnis
fakultas pertanian
PEKANBARU
2016














  
  BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Subsektor perikanan dan peternakan merupakan andalan utama sumber pangan dan gizi bagi masyarakat indonesia. Ikan, selain merupakan sumber protein, juga diakui sebagai "functional food" yang mempunyai arti penting bagi kesehatan karena mengandung asam lemak tidak jenuh berantai panjang (terutama yang tergolong asam lemak omega-3), vitamin,serta makro dan mikro mineral. Dibandingkan negara lain, sumbangan perikanan dalam penyediaan protein di indonesia termasuk besar, yakni 55% . Namun demikian, jumlah ikan yang tersedia belum memenuhi kondisi ideal kecukupan gizi sebesar 26,55 kg ikan/kapita/tahun. Dengan produksi ikan sebesar 4,80 juta ton, maka jumlah ketersediaan ikan hanya 19,20 kg/kapita pada tahun 1998. Diperkirakan angka konsumsi ikan secara aktual berada di bawah angka ketersediaan tersebut, karena masih tingginya angka susut hasil ("loss") baik kuantitas, kualitas, maupun nilai gizinya (Heruwati, 2002).
Ikan asap merupakan salah satu produk olahan yang digemari konsumen baik di Indonesia maupun di mancanegara karena rasanya yang khas dan aroma yang sedap spesifik. Proses pengasapan ikan di Indonesia pada mulanya masih dilakukan secara tradisional menggunakan peralatan yang sederhana serta kurang memperhatikan aspek sanitasi dan hygienis sehingga dapat memberikan dampak bagi kesehatan dan lingkungan. Kelemahan-kelemahan yang ditimbulkan oleh pengasapan tradisional antara lain kenampakan kurang menarik (hangus sebagian), kontrol suhu sulit dilakukan dan mencemari udara (polusi) (Swastawati , 2011).
Pengasapan dapat didefinisikan sebagai proses penetrasi senyawa volatil pada ikan yang dihasilkan dari pembakaran kayu yang dapat menghasilkan produk dengan rasa dan aroma spesifik umur simpan yang lama karena aktivitas anti bakteri, menghambat aktivitas enzimatis pada ikan sehingga dapat mempengaruhi kualitas ikan asap. Senyawa kimia dari asap kayu umumnya berupa fenol (yang berperan sebagai antioksidan), asam organik, alkohol, karbonil, hidrokarbon dan senyawa nitrogen seperti nitro oksida, aldehid, keton, ester, eter, yang menempel pada permukaan dan selanjutnya menembus ke dalam daging ikan ( Isamu,2012).

1.2.Tujuan
1.      Mengetahui profil usaha ikan salai lele
2.      Mengetahui input dan output usaha ikan salai lele
3.      Mengetahui proses penyalaian ikan salai lele
4.      Mengetahui SDM dan Pengolahan limbah dari proses produksi



















BAB II
KEADAAN UMUM USAHA IKAN SALAI

Usaha budidaya ikan lele  air tawar milik Bapak Ahmadin sudah berkembang atau berproduksi cukup lama, usaha ini sekaligus merangkap proses penyalaian pada ikan lele. Usaha ini berada di Jln. Gading Marpoyan Gg. Lundang No. 130, Kelurahan Simpang Tiga, Kecamatan Bukit Raya Kota Pekanbaru. awal bermula usaha ini yaitu pada tahun 2000 beliau telah meluluskan kuliaha nya dari institut perguruan tinggi IPB di Bogor, sembari melaksanakan pendidikannya beliau membuka usaha Ternak burung puyuh sampai proses perkuliajahannya selesai, setelah itu usaha bapak ahmadin beralih pada objek yang lain, di tahun 2006 usahanya beralih ke pembenihan ikan, dimana belian merintis kembali dari awal agar usahanya ini berjalan dengan baik sampai keluar daerah agar banyak para anggota masyarakat yang mengetahui usaha tersebut dan dapat memberikan dampak positif bagi usahanya.
Pada tahun 2010 beliau juga melakukan usaha pembesaran ikan, akan tetapi disini beliau banyak mendapat kendala yaitu tentang pemasarannya, selain itu fluktuasi harga juga terjadi naik turun nya harga tersebut dan menjadi tidak stabil, oleh karena itu tidak kehabisan akal dan pemikiran yang baik beliau menjadikan ikan- ikan tersebut menjadi produk olahan yang menghasilkan profit bagi pengusaha dan dapat di jual pada pangsa pasar yang umum.
Setelah usaha tersebut terus berjalan, pada tauhun 2011 akhir  pengolah ikan salai nya (pengasapan) juga di pelajari lebih baik lagi oleh bapak ahmadin agar hasil dari ikan salainya berstandar baik dan tidak mengecewakan konsumen, waktu yang dibutuhkan oleh beliau untuk proses pembelajaran adalah 6 bulan, setelah itu beliau sudah mendapatkan  izin yang syah untuk syarat-syarat pemasaran produknya di sawalayan/pasar bebas yang disebut dengan (PIRT)
Tahun 2013, bapak ahmadin melakukana Dipersivikasi usaha terhadap usaha budidaya ikana lelenya karena beliau melihat prospek untuk kedepannya sangatlah bagus demi kelangsungan usahanya dan banyak diminati oleh para masyarakat. Dari ternak puyuh ke pembenihan ikan lele, berkembang ke proses pembesaran  ikan lele, merangkap menjadikan ikan lele sebagai ikan salai, dan beberapa lagi produk yang di hasilkan dari bahan baku yaitu ikan lele seperti : a). keripik ikan lele; b). naget lele; c). abon lele dan lainnya.
















BAB III
 HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Profil usaha ikan salai
            Berawal di tahun 2002, pria yang akrab disapa Madin ini memulai usaha tambak lele di depan rumahnya. Awalnya baru satu kolam yang ia punya. Uang hasil dari panen satu kolam itu kemudian ia kumpulkan dan dijadikan modal untuk menambah kolam satu lagi. Begitulah seterusnya, perlahan ia terus memperbanyak kolam lelenya, sehingga berjumlah 25 kolam.
Semua ini berawal dari nol. Awalnya hanya punya satu kolam.Kemudian berkembang perlahan.Setelah bertahun-tahun membibitkan lele, Madin kemudian mencoba belajar pengasapan ikan melalui temannya di pertengahan 2010.Setelah merasa mantap, di awal 2011 Madin baru memberanikan diri mencoba membuat salai lele sendiri.
Awalnya hanya kecil-kecilan.Dengan tungku kecil dan jumlahnya tidak terlalu banyak.Tapi melihat respon masyarakat terhadap salai lele ini, kemudian saya mencoba produksi bertambah banyak.Tungkunya pun semakin dibuat besar, dan begitu pula tempat memanggang atau opennya.
Madin kemudian mencoba memperbesar marketnya dengan masuk ke pasar-pasar tradisional, mini market, hingga super market.Ikan Salai Lele Sedap miliknya pun semakin dikenal di pasaran.

3.2. Hasil dan Pembahsan
3.2.1 Input Dan Output Usaha Ikan Salai bapak Ahmadin
            Bahan baku pada pembuatan ikan salai yaitu ikanlele ya ng berumur  ± 3 bulan. Ikan lele tersebut diperoleh padausaha sendiri dan disamping itu juga dengan melakukan mitra usaha pada sesama Pengusaha ikan lele. Harga ikan lele basah berkisar Rp. 10.000 – Rp. 18.000 / kg sedangkan harga ikan salainya Rp. 75.000 – Rp. 100.000 / kg.Setiap 1 kg ikanlelebasahmenghasilkan 250 gr ikan salai.

3.2.2 Proses Penyalaian
            Proses penyalaian ikan ini mulai dari pengambilan ikan basah sampai dengan pengemasan membutuhkan waktu selama 2 hari. Proses pembuatan ikan salai dimulai dari pengambilan ikan di kolam ataupun dari rekan yang mempunyai usaha ikan lele, kemudian ditampung pada sebuah ember untuk melakukan pencucian ikan dengan air bersih, setelah dicuci bersih dilakukan pembuangan kotoran serta pembelahan ikan, lalu setelah itu ikan dicuci kembali yang kemudian di susun pada oven untuk dilakukan pengasapan, pada proses pengasapan membutuhkan waktu yang lama karena jika menggunakan api yang terlalu besar maka ikan akan gosong sehingga kualitas ikan salai akan menurun dan pengasapan ini merupakan proses yang lebih hati-hati untuk mendapatkan hasil yang baik, proses berikutnya yaitu pendinginan ikan sebelum di lakukan pengemasan karena jika dalam keadaan panas ikan salai di kemasakan cepat rusak.
3.2.3 Hasil Dan Pemasaran
            Untuk pendapatan selaman1 bulan yaitu 4 kali proses produksi pada usaha ikan salai, sbb :
-        Harga ikan lele basah = Rp. 10.000 – Rp. 18.000 / kg, sehingga harga rata-rata =Rp. 14.000
-        Hargai kan lele salai= Rp. 75.000 – Rp. 100.000 / kg, dengan harga rata-rata = Rp. 87.500
-        Kayu bakar = Rp. 250.000 / mobil pick up / bulan
-        1 kg ikan lele basah = 250 gr ikan salai
-        1 kg ikan salai = 4 kg ikan segar
-        1 kali proses produksi = 200 kg ikan lele basah = ±80 kg ikan salai
-        Gaji karyawan = Rp. 800.000 / orang
-        1 bulan = 4 kali proses produksi ikan salai
-        Alat yang di gunakan yaitu :pisau, ember, mejakerja, box penyimpanan ikan sebelum di packing, pakingsiler, lemlistrik, timbangan listrik.
π = TR – TC
    = Pendapatan kotor – (Ikan lele basah +Tenag akerja + kayu bakar + penyusutan alat)
    = {(80 kg ikansalai x 4 kali produksi) x Rp. 87.500 / kg} – {(200 kg x 4 kali produksi x Rp. 14.000) + (2 orang x Rp. 800.000) + (kayu bakarRp 250.000 / mobil / bulan) + Rp. 3.800.000}
    = (320 kg x Rp. 87.500 / kg) – (Rp. 11.200.000 + Rp. 1.600.000 + Rp. 250.000 + Rp. 3.800.000)
    = Rp. 28.000.000 –Rp. 16.850.000
    = Rp. 11.150.000 / bulan
            Pemasaran ikan salai yang sudah siap untuk dijual dipasarkan pada beberapa tempat seperti di supermarket di Kota Pekanbaru, online dan juga penjualan secara langsung di rumah.
            Usaha ikan salai lele ini sudah memiliki sertifikat cara pengolahan ikan yang baik yaitu sertifikat good manufacturing practices certificate dan sertifikat dari PYRT tentang pengemasan ikan salai lele serta penggalakan dari CBIB.
3.2.4. Sumber Daya Manusia
No.
Tenaga Kerja
Jumlah
Pendidikssan
Penempatan Kerja
1.
TK dalam keluarga
- suami
- istri
2 orang

S1
SMA

Salingme lengkapi
Salingme lengkapi
2.
TK luar keluarga
- Ijur
- Kamalia
2 orang

SMA
SMP

Saling melengkapi
Saling melengkapi

3.2.5. Pengolahan Limbah Hasil Produksi
            Limbah hasil produksi tidak dibuang begitu saja, tetapi dilakukan pemanfaatan limbah untuk menghasilkan pupuk. Pupuk yang dihasilkan dari pengolahan limbah dimanfaatkan untuk pembudidayaan cacing pet, sehingga limbah dari proses produk ikan salai akan memberikan dampak positif terhadap lingkungan dengan cara pemanfaatannya yang baik dan benar.









 BAB IV
KESIMPULAN

Ø  Usaha budidaya ikan lele  air tawar milik Bapak Ahmadin sudah berkembang atau berproduksi cukup lama, usaha ini sekaligus merangkap proses penyalaian pada ikan lele. Usaha ini berada di Jln. Gading Marpoyan Gg. Lundang No. 130, Kelurahan Simpang Tiga, Kecamatan Bukit Raya Kota Pekanbaru. awal bermula usaha ini yaitu pada tahun 2000. Setelah usaha tersebut terus berjalan, pada tauhun 2011 akhir  pengolah ikan salai nya (pengasapan) juga di pelajari lebih baik lagi oleh bapak ahmadin agar hasil dari ikan salainya berstandar baik dan tidak mengecewakan konsumen, waktu yang dibutuhkan oleh beliau untuk proses pembelajaran adalah 6 bulan, setelah itu beliau sudah mendapatkan  izin yang syah untuk syarat-syarat pemasaran produknya di sawalayan/pasar bebas yang disebut dengan (PIRT). Tahun 2013, bapak ahmadin melakukana Dipersivikasi usaha terhadap usaha budidaya ikana lelenya dengan membuat berbagai olahan produk dari bahan dasar ikan lele, seperti a). keripik ikan lele; b). naget lele; c). abon lele dan lainnya.
Ø  Bahan baku pada pembuatan ikan salai yaitu ikanlele ya ng berumur  ± 3 bulan.
Ø  Proses penyalaian ikan ini mulai dari pengambilan ikan basah sampai dengan pengemasan membutuhkan waktu selama 2 hari. Proses pembuatan ikan salai dimulai dari pengambilan ikan di kolam ataupun dari rekan yang mempunyai usaha ikan lele, kemudian ditampung pada sebuah ember untuk melakukan pencucian ikan dengan air bersih, setelah dicuci bersih dilakukan pembuangan kotoran serta pembelahan ikan, lalu setelah itu ikan dicuci kembali yang kemudian di susun pada oven untuk dilakukan pengasapan,

DAFTAR PUSTAKA
Heruwati, endang sri. 2002. Pengolahan ikan secara tradisional: prospek dan peluang pengembangan. Pusat riset pengolahan produk dan sosial ekonomi kelautan dan perikanan, Jakarta.
Isamu Kobajashi T., Hari Purnomo Dan Sudarminto S. Yuwono. 2012. Karakteristik Fisik, Kimia, Dan Organoleptik  Ikan       Cakalang (Katsuwonus Pelamis) Asap Di Kendari.Jurnal     Teknologi Pertanian Vol. 13 No. 2 [Agustus 2012] 105-110
Kusmajadi, S., Lilis S., Dan Balqis B. 2011. Keempukan Dan Akseptabilitas Daging Ayam Pada Berbagai Temperatur Dan Lama Pengasapan. Jurnal Ilmu Ternak. Volume 11 Nomor 1

















DOKUMENTASI KEGIATAN